Basudara di Rantau Orang


 
Judul :Basudara di Rantau Orang

Malam itu, di kamar kos sempit di kota rantau, suara gitar pelan terdengar dari sudut ruangan. Arfan duduk bersandar di dinding, menatap foto keluarganya di kampung. Di tangannya sebatang rokok hampir habis, sementara bibirnya keluar nyanyian lirih:

“Kalo orang hidup basudara, sayang e…
sagu salempeng pata dua...”

Nada itu membuat dada hangat sekaligus perih. Sudah sepuluh tahun ia tak pulang ke kampung Skendi. Ia datang ke kota untuk bekerja, tapi semakin lama, yang ia kejar bukan hanya rejeki—melainkan kerinduan yang tak pernah selesai.

Ia ingat pesan mamanya sebelum ia berangkat:

“Meski hidup senang atau susah, gandong e…
jang satu marah par laeng.
Inga, mama deng papa bilang, jang lupa kumpul… basudara.”

Kata-kata itu selalu menemaninya. Kadang saat kerja di musim panas terik, kadang saat makan sendiri di malam hari. Ia tahu, di kampung, mama dan papa pasti duduk di depan rumah, menatap langit yang sama sambil berdoa agar anaknya kuat di rantau orang.

Arfan menatap langit di luar jendela. Lampu-lampu kota berkedip seperti bintang yang jauh. Di bawah sinar itu, air matanya jatuh .

“Sio… mama, inga beta… ada di rantau,”
bisiknya dengan suara serak.
“Kalo inga-inga mama deng papa… aer mata jatuh berlinang.”

Ia menarik napas dalam, menatap foto itu sekali lagi.

“Sio… mama… beta rindu… ingin mau pulang.”

Dan malam di kota itu terasa sunyi. Hanya suara jangkrik dan kenangan dari tanah jauh yang menemaninya—tentang rumah dan kasih sayang yang tak pernah habis dalam suasana basudara.

#fyp #foto #teks

Post a Comment

Previous Post Next Post