Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Di tengah kelelahan, aku masih memiliki satu permohonan kecil

     Judul: Di tengah kelelahan, aku masih memiliki satu permohonan kecil

    Aku menyadari kenyataan itu bukan saat ia datang, melainkan saat ia tinggal.
    Ia menetap di dada, membuat napas terasa pendek, dan mengajarkan kekhawatiran berjalan bersamaku ke mana pun aku pergi.

    Ada hari-hari ketika aku ingin memejamkan mata, bukan untuk tidur, tapi untuk tidak melihat. Kepahitan itu terlalu jujur—tak bisa ditipu oleh senyum, tak bisa disamarkan oleh kata-kata. Aku belajar memakai topeng, bukan karena ingin berbohong, tapi karena lelah menjelaskan mengapa aku terus terluka.

    Kebahagiaan pernah singgah. Singkat. Seperti angin yang menyentuh wajah lalu pergi tanpa pamit. Aku sempat mengira itulah hidup: menunggu sesuatu yang datang hanya untuk menghilang. Yang kuinginkan sebenarnya sederhana—bukan tawa berlebihan, bukan euforia. Aku hanya ingin nyaman. Cukup untuk bertahan di dunia nyata tanpa harus melarikan diri.

    Namun dunia terasa keras.
    Kenyataan menatapku tajam, dan aku tak selalu kuat membalas tatapannya. Ada rasa sakit yang tak berdarah, tapi perihnya seperti goresan pisau—diam-diam, dalam, dan lama sembuhnya. Di titik itu, keinginan untuk pergi muncul. Entah ke mana. Asal bukan di sini. Asal bukan menjadi aku yang sekarang.

    Pernah terlintas untuk melupakan segalanya, memulai hidup baru seolah masa lalu tak pernah ada. Tapi aku tahu, luka yang ditinggalkan tak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, menunggu waktu untuk kembali.

    Di tengah kelelahan itu, aku masih memiliki satu permohonan kecil:
    agar gelap tak selamanya gelap.
    Agar aku tidak terus diseret dalam kesiksaan batin.
    Agar suatu hari aku bisa merasakan kebahagiaan yang tidak cepat pudar.

    Aku ingin diterima apa adanya. Bukan sebagai sosok yang sempurna, tapi sebagai seseorang yang sedang berusaha. Aku ingin membangun sesuatu—bersama mereka. Meski aku sadar, membangun dari reruntuhan tidak mudah. Puing-puing berserakan, batu-batu tak lagi utuh. Terkadang aku sendiri ragu, apakah bangunan itu pantas diperjuangkan.

    Namun setiap pagi, saat cahaya pertama menyentuh langit, aku mengingat satu hal:
    fajar tidak pernah terburu-buru, tapi ia selalu datang.
    Tak pernah terlambat untuk bersinar.

    Dan mungkin, selama aku masih percaya pada itu,
    dunia yang kuinginkan nyaman
    belum benar-benar menjauh dariku.

    No comments

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728