Header Ads

ad728
  • Breaking News

    Piring yang Retak

     

    Judul: Piring yang Retak

    Di sebuah kota kecil yang damai, orang-orang sering berkata bahwa kebenaran akan selalu menang. Namun bagi Chados, kalimat itu terdengar seperti hiasan dinding—indah, tapi tak selalu nyata.

    ada temannya bekerja di sebuah lembaga pelayanan rohani di pinggiran kota. Sejak awal, ia percaya bahwa tempat itu adalah rumah bagi kejujuran dan ketulusan. Ia datang dengan hati penuh semangat, ingin melayani bukan untuk dipuji, tetapi karena ia yakin kebenaran adalah fondasi dari segala sesuatu yang baik.

    Suatu hari, terjadi sebuah kesalahpahaman besar. Seorang rekan dekat pimpinan melakukan kekeliruan fatal dalam pengelolaan dana kegiatan. Chados mengetahui kebenarannya. Bukti ada di tangannya. Namun ketika rapat besar digelar, suasananya terasa aneh.

    Orang-orang yang biasanya bersuara lantang tiba-tiba menjadi lembut. Tatapan mereka tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari arah angin. Siapa yang paling berpengaruh? Siapa yang selama ini menjadi “piring makan” mereka—yang memberi posisi, proyek, dan kenyamanan?

    Chados berdiri dan menyampaikan fakta dengan tenang. Ruangan itu sunyi sesaat. Tapi sunyi itu bukan tanda setuju. Itu tanda perhitungan.

    Tak lama, satu per satu mulai berbicara. Bukan membela yang benar, melainkan membela yang mereka suka. Membela yang selama ini menguntungkan mereka. Kesalahan diputarbalikkan menjadi “kekeliruan kecil.” Bukti dianggap “salah tafsir.” Dan Chados perlahan berubah dari pembawa kebenaran menjadi pembuat masalah.

    Hari itu Chados belajar sesuatu yang pahit: orang tidak selalu membela yang benar. Mereka sering membela yang dekat, yang berguna, yang menjadi sumber kenyamanan hidup mereka.

    Dan itu bukan hanya terjadi di luar sana, di kalangan awam. Bahkan di tempat pelayanan yang katanya suci pun, manusia tetaplah manusia—dengan kepentingan, ketakutan, dan hitung-hitungan.

    Beberapa minggu kemudian, Chados tidak lagi dilibatkan dalam rapat-rapat penting. Namanya jarang disebut. Senyumnya mulai dipertanyakan. Ia tahu, posisinya perlahan digeser.

    Suatu malam, ia duduk sendirian di teras rumahnya. Angin berembus . Dalam hati ia bertanya, “Apa gunanya membela yang benar kalau akhirnya disingkirkan?”

    Namun jauh di dalam batinnya, ada suara kecil yang tetap bertahan.

    Iman bukan soal diterima banyak orang. Iman adalah soal tetap berdiri meski sendirian.


    Chados menyadari, dunia mungkin tidak selalu adil. Orang mungkin lebih memilih yang menguntungkan daripada yang benar. Tapi jika ia ikut arus itu, maka ia kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari jabatan—ia kehilangan dirinya sendiri.

    Ia tersenyum tipis.

    “Kalau harus kehilangan posisi karena kebenaran,” gumamnya pelan, “biarlah. Asal jangan kehilangan iman.”

    Karena di dunia yang sering membela siapa yang disukai, hanya iman yang kuat yang membuat seseorang tetap tegak. Dan yang tak kuat… memang akan perlahan berjalan pergi.

    Piring bisa retak. Hubungan bisa berubah. Dukungan bisa hilang.

    Tapi kebenaran tetap kebenaran.

    Dan Chados memilih untuk tetap berdiri di sisinya.

    No comments

    Post Top Ad

    ad728

    Post Bottom Ad

    ad728