![]() |
| Judul : Orang Yang Paling ku Benci Ternyata Mencintaiku Dalam Diam |
Awal cerita diperlihatkan seorang wanita yang sedang berkendara menuju rumah neneknya. Namun dia kesal ketika disalip pengendara motor yang melaju kencang.
Setiba di rumah, wanita bernama Sahra ini memanggil-manggil sang nenek, namun nenek tidak kunjung keluar. Semua pintu rumah terkunci, ditelepon juga tidak diangkat. Tetangganya, Daniel, juga mendapati neneknya tidak ada di rumah. Sebelumnya nenek Daniel bilang ia sakit jantung, jadi Daniel sangat khawatir. Tanpa pikir panjang, Daniel memanjat ke atas loteng untuk memeriksa pintu lantai dua, namun semuanya terkunci rapat. Saat menelepon ulang, terdengar suara handphone berdering dari dalam rumah.
Karena khawatir terjadi sesuatu, Sahra langsung melempar kaca pintu menggunakan helm hingga pecah. Tak lama kemudian kedua nenek baru tiba dan kaget melihat Sahra memecahkan kaca pintu. Daniel marah dan bilang mereka seperti anak kecil. Ternyata nenek Azura sebelumnya berbohong tentang sakit jantungnya. Sahra bertanya dari mana saja mereka berdua. Nenek Sahra bilang mereka dari pantai, handphone-nya mati kehabisan baterai, sedangkan handphone nenek Azura tertinggal di rumah.
Nenek Azura meminta maaf telah membohongi Daniel. Ia kesal karena cucunya beberapa bulan tidak memberi kabar. Daniel mengaku sibuk, tetapi yakin neneknya punya maksud lain. Ia meminta sang nenek jangan membohongi dia lagi.
Di sisi lain, Sahra mendapat kabar dari temannya, Ahu, bahwa rekannya Karim menikung pekerjaannya sehingga bos lebih percaya pada Karim. Tak lama setelah itu, nenek Sahra menyuruh Sahra mengantar makanan ke rumah nenek Azura. Sahra awalnya menolak karena tidak ingin bertemu Daniel, namun ia tetap mengantar.
Ketika Sahra mengetuk pintu, nenek Azura sedang memasak dan menyuruh Daniel menemui Sahra. Daniel menolak, namun akhirnya tetap keluar. Sahra menyerahkan makanan dengan wajah ketus. Daniel memakan makanan itu dan bilang, “Pasti bukan kamu yang buat. Rasanya enak.” Tentu saja Sahra tersinggung.
Ternyata pertemuan itu adalah rencana dari kedua nenek.
Malam harinya, Sahra mendapat kabar bahwa Karim gagal mewawancarai seorang fotografer terkenal bernama Daniel Tunali — satu-satunya fotografer yang menolak penghargaan global. Jika Sahra berhasil mewawancarainya, ia akan dipromosikan. Neneknya ragu, tetapi Sahra yakin.
Keesokan paginya, Karim menantang Sahra: siapa yang bisa mewawancarai Daniel, dialah yang akan mendapat promosi. Yang kalah harus berhenti bekerja. Sahra menerima tantangan itu.
Hari itu, kedua nenek kembali membuat rencana. Seekor kucing naik ke atas pohon, dan Sahra memanjat untuk mengambilnya. Namun kedua nenek dengan sengaja memindahkan tangga lalu memanggil Daniel untuk menolong Sahra turun. Sahra menolak, lalu tanpa sengaja ia jatuh dan menimpa kepala Daniel hingga berdarah.
Sahra akhirnya disuruh meminta maaf dan memberikan obat ke rumah Daniel. Saat ia tiba, Daniel masuk kamar. Saat menunggu, Sahra melihat foto-foto karya Daniel di dinding dan menyadari bahwa Daniel tetangganya itulah Daniel Tunali sang fotografer yang selama ini ia cari.
Hari berikutnya Sahra mengundang Daniel dan nenek Azura sarapan. Namun hanya nenek Azura yang datang. Daniel sarapan di rumah nenek Sahra bersama sahabatnya Ulas, dan mau tidak mau Daniel tetap harus menerima kado dari Sahra. Tapi ternyata Ahu salah membeli helm, membuat Sahra malu. Daniel hanya tertawa dan berkata ia membutuhkan helm itu sebagai pot bunga.
Ahu kemudian menyusun strategi untuk mendekati Daniel lewat Ulas. Sahra dan Ahu menemui Ulas di kafe pantai. Saat Daniel tiba, Ulas meminta Daniel untuk mengantar Sahra ke pantai indah yang ia rekomendasikan. Meski enggan, Daniel akhirnya pergi bersama Sahra.
Di perjalanan mereka saling diam. Setibanya di lokasi, mereka duduk menenangkan diri, menikmati sunset. Diam-diam mereka saling memotret, saling memperhatikan, meski sehari-hari mereka selalu bertengkar.
Malam hari, mereka makan bersama. Sahra mengatakan mereka sudah dewasa dan tidak perlu bersikap seperti musuh. Daniel tetap cuek. Lalu Daniel membawa Sahra ke dermaga yang sepi. Di bawah cahaya bulan, Sahra bertanya apakah Daniel masih suka melihat bintang seperti dulu. Daniel mengingatkan Sahra tentang kebiasaan mengumpulkan batu. Momen hampir romantis itu rusak ketika Sahra mendorong Daniel ke laut dan ia ikut tercebur. Kunci motor Daniel ikut tenggelam. Mereka terjebak dan akhirnya bertengkar hebat. Daniel meminta Sahra tidak bicara dengannya lagi.
Beberapa hari kemudian, Daniel diam-diam melihat foto-foto Sahra di kameranya. Ulas tahu Daniel masih memikirkan Sahra. Kedua nenek lalu membuat rencana lagi. Sahra dan Ahu duduk di warung pantai, sementara nenek Azura berpura-pura berbelanja dengan Daniel. Ketika dua pria iseng mengganggu Sahra, Sahra memukul mereka, dan tanpa sengaja memukul Daniel juga. Daniel membantu memukul balik para pria itu. Polisi datang dan menangkap semua. Ternyata kedua pria itu disuruh oleh nenek-nenek untuk menjalankan rencananya.
Setelah bebas, Daniel menawari Sahra pulang dengan motor. Sahra trauma karena orang tuanya meninggal akibat kecelakaan motor. Danil menyesal membuat Sahra ketakutan.
Sahra bertanya, apakah mereka bisa berteman lagi. Daniel bilang mereka tidak pernah berteman dan tidak akan pernah.
Beberapa hari kemudian, Daniel menceritakan kisah di balik helm kesayangannya: helm itu ia beli di masa remaja untuk diberikan kepada Sahra. Mereka saling menyimpan kenangan yang sama, hanya tidak pernah diungkap.
Hari-hari berikutnya mereka semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu bersama, makan bersama, berjalan di pantai. Daniel memberi Sahra toples berisi batu yang ia kumpulkan dari seluruh dunia — semuanya untuk Sahra.
Suatu hari, Sahra panik karena timnya belum mendapatkan fotografer untuk cover majalah. Daniel dengan sukarela membantu, tetapi meminta namanya tidak ditulis.
Saat sesi foto berlangsung, Karim muncul dan menuduh Sahra curang. Daniel membela Sahra dan mengatakan semua taruhan tidak penting. Yang penting adalah kebenaran.
Sahra akhirnya menulis artikel tentang Daniel tanpa menampilkan wajahnya. Ia fokus pada pesan dan kisah hidup sang fotografer. Artikel itu begitu menyentuh hingga membuat Sahra dipromosikan menjadi pimpinan redaksi. Karim mengundurkan diri sesuai taruhan.
Saat membuka toples batu dari Daniel, Sahra menangis. Setiap batu memiliki tulisan tempat dan waktu — tanda betapa besar cinta Daniel padanya.
Ulas kemudian memberikan majalah kepada Daniel. Daniel tersentuh membaca tulisan Sahra dan menyadari ia salah paham selama ini.
Saat acara syukuran promosi Sahra berlangsung, Sahra justru datang dengan hati galau. Namun Daniel tiba-tiba muncul, mengungkapkan perasaannya. Sahra membalas perasaan itu.
Mereka akhirnya berdamai, saling mencintai, dan berakhir bahagia. ceritapun selesai.

Post a Comment