Judul : Di jantung Makkah ada kisah hidup luar biasa dari seorang perempuan
Di jantung Makkah ada kisah hidup luar biasa dari seorang perempuan. Perempuan paling kontroversial dalam sejarah Islam, Hindun binti Utbah. Ia kuat, cerdas, berpengaruh, penuh ambisi dan kaya raya. Tatapannya menaklukkan sekitar. Tindakannya mengguncang jiwa banyak orang. Hindun bukan sekadar istri pemimpin kota. Ia adalah sosok penguasa bayangan, penentu nasib banyak orang.
Namun di balik pakaian mewah dan perhiasan gemerlapnya, tersimpan bara dendam, keangkuhan dan kekejaman. Ia menindas yang lemah, memandang rendah budak, menilai banyak nyawa tak berarti jika tak sejalan dengannya. Kemudian datanglah risalah Allah ke Makkah. Risalah Islam yang sungguh mengguncang kekuasaan dan kedudukannya. Ia melawannya dengan seluruh kekuatan dan kemarahan. Sosok yang sangat ditakuti oleh muslim, karena selama bertahun-tahun ia telah menyiksa dan menindas mereka. Dialah penyebab gugurnya Sayidina Hamzah, singa Allah. Namun siapa sangka, sang pembenci risalah langit itu pada akhirnya berlutut dan berserah.
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim.
Dan sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang Badar padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah agar kamu mensyukurinya. (Q.S. Ali Imran: 123)
Di tengah gemuruh kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar, seorang wanita menyaksikan dunia sekitarnya hancur. Ayah dan saudaranya tewas dalam pertempuran. Duka dan kemarahan semakin membara dalam hatinya, menyalakan api dendam yang tak mudah padam. Ialah Hindun binti Utbah. Sosok yang kelak menjadi figur paling kontroversial sekaligus berpengaruh di kota suci Makkah.
Namun sebelum itu, mari kita telusuri jejak kehidupannya jauh sebelum peristiwa besar itu terjadi. Di tengah gurun yang luas, aroma rempah yang menyesap ke setiap sudut, dan perdagangan yang tak pernah tidur, Makkah menjadi pusat kekuasaan dan ambisi. Tempat suku-suku besar dan keluarga ternama menenun takdir. Di sinilah seorang anak perempuan lahir yang namanya kelak menjadi simbol kekuatan, kontroversi, dan perubahan: Hindun binti Utbah.
Garis keturunan Bani Umayyah mengalir deras dalam dirinya. Ayahnya, Utbah bin Rabiah, adalah raksasa politik dan pengendali perdagangan Makkah. Ibunya, seorang bangsawan Quraisy, menanamkan rasa hormat, kesadaran akan kedudukan, dan strategi. Dari keluarga itulah Hindun belajar bahwa hidup adalah medan pertempuran tak terlihat.
Saat beranjak remaja, tatapannya menjadi semakin tajam. Pikirannya gesit, dan ambisinya tak terbendung. Dari ayahnya, ia belajar perdagangan dan politik. Baginya, kekuatan dan pengaruh bukan hanya milik laki-laki. Keberaniannya menarik perhatian Abu Sufyan bin Harb, kepala suku Quraisy. Pernikahan mereka bukan sekadar cinta, tetapi aliansi strategis yang menempatkan Hindun di pusat kekuasaan.
Ia bukan bayangan suaminya. Ia berbicara, memberi nasihat, menata strategi. Ambisi dan keberaniannya menembus ruang rapat para pemimpin Quraisy.
Namun dunia mereka mulai bergetar ketika risalah Islam datang. Tauhid menantang tradisi jahiliyah, menegakkan hak budak, yatim, dan perempuan. Fondasi Makkah yang dibangun atas kebanggaan dan riba mulai retak. Bagi Hindun, Islam adalah ancaman terhadap kekuasaan, ekonomi, status, dan struktur sosial. Ia menolak dan memerangi Islam dengan keras.
Ketegangan memuncak di perang Badar. Kaum muslimin yang sedikit, dengan iman yang teguh, mengalahkan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Hindun mendengar nama-nama keluarganya gugur—ayahnya, saudaranya. Semua oleh pedang Sayidina Hamzah. Dendamnya membara.
Ia mendekati Wahsyi bin Harb, budak Habsyi yang ahli tombak. Ia berkata: “Bunuh Hamzah, dan aku akan memerdekakanmu.”
Perang Uhud pun tiba. Hamzah bertempur seperti singa Allah. Wahsyi menunggu dalam bayangan, lalu melempar tombak yang membunuh Hamzah. Hindun mendekati jasadnya dan melakukan tindakan yang kelak menjadi kontroversi dalam sejarah.
Namun setelah itu, perjalanan hidupnya pelan-pelan berubah.
Tahun demi tahun berlalu. Rasulullah dan para sahabat mencari perdamaian, bukan pembalasan. Perjanjian Hudaibiyah menjadi titik damai yang mengubah arah sejarah. Hingga akhirnya, Fathul Makkah tiba. Rasulullah memasuki Makkah tanpa perang, dengan kemurahan hati dan pengampunan yang mengguncang siapa pun yang melihatnya.
Hindun berdiri menyaksikan kemenangan tanpa pedang itu. Seluruh dendamnya luluh. Ia maju untuk berbaiat, menyatakan keimanan. Meski suaranya bergetar, tekadnya mantap. Nabi mengenali suaranya, dan dengan lembut menerima baiatnya.
Hindun menangis—bukan karena kalah, tetapi karena hatinya disentuh cahaya yang tak pernah ia bayangkan.
Sejak hari itu ia berubah. Ia membimbing wanita, berdagang dengan jujur, mendukung umat. Dari musuh besar Islam, ia menjadi muslimah yang kuat, tulus, dan berpengaruh positif. Suaminya, Abu Sufyan, juga memeluk Islam.
Meski banyak tuduhan muncul di sejarah, para ulama menegaskan: pertobatan Hindun diterima Allah dan Rasul-Nya. Setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Kesalahan lalu tidak membatalkan kebaikan yang datang kemudian.
Perjalanan hidup Hindun adalah bukti bahwa perubahan itu nyata. Bahwa hati manusia dapat tersentuh cahaya, tidak peduli seberapa gelap masa lalunya.

Post a Comment