Judul : Rela Ditipu 14 Tahun Demi Cinta
Malam itu sunyi, hanya suara langkah kaki seorang lelaki muda yang bergema di padang tandus. Namanya Yakub, anak dari Ishak, cucu dari Abraham. Namun malam itu ia bukan lagi seorang pewaris yang dihormati, melainkan pelarian. Ia berjalan dengan langkah gemetar meninggalkan rumahnya di Bersie Yeba. Semua karena satu kesalahan besar: ia telah menipu kakaknya Esau demi berkat sulung dari ayahnya yang sudah tua. Dan kini amarah Esau membara seperti bara neraka.
Yakub lari bukan hanya dari kakaknya, tapi dari masa lalunya sendiri. Angin malam menusuk tulangnya, debu padang menggigit kulitnya. Tak ada tenda, tak ada pelindung, hanya batu yang ia jadikan bantal. Dan di tengah kelelahan dan ketakutan, matanya terpejam. Namun saat itu juga langit terbuka.
Yakub bermimpi. Ia melihat sebuah tangga yang tegak di bumi, ujungnya mencapai langit dan malaikat-malaikat Allah naik turun di atasnya. Lalu terdengar suara yang lembut namun penuh kuasa: “Aku Tuhan Allah Abraham dan Ishak. Tanah tempat engkau berbaring ini akan kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.”
Yakub terbangun dengan tubuh bergetar. Ia menatap langit yang kini terasa berbeda. Bukan lagi kosong, tapi penuh janji. Air matanya jatuh membasahi tanah. Ia sadar meskipun ia telah menipu manusia, Tuhan masih berbelas kasihan padanya. Ia berkata, “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya.”
Sejak malam itu, langkah Yakub menjadi perjalanan iman. Ia melangkah menuju Haran bukan hanya untuk menyelamatkan diri, tetapi untuk menemukan sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupnya—cinta, penipuan, dan rencana Allah yang tersembunyi di balik semuanya.
Langit timur mulai memerah. Yakub berjalan sendirian melewati padang tandus yang luas. Debu menempel di wajahnya, tapi matanya tetap menatap ke depan. Ia sudah jauh dari rumah, jauh dari segala yang ia kenal. Namun langkahnya terus dipandu oleh satu keyakinan: Tuhan yang menampakkan diri di Betel masih menyertainya.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, Yakub tiba di tanah Haran, tempat keluarga ibunya tinggal. Di kejauhan ia melihat sebuah sumur besar di tengah padang, dikelilingi kawanan domba. Batu besar menutupi mulut sumur itu. Gembala-gembala duduk di sekitarnya menunggu kawanan berkumpul sebelum membuka batu itu bersama-sama.
Yakub mendekat dan bertanya, “Saudara-saudaraku, dari manakah kamu?”
“Kami dari Haran,” jawab mereka.
Hatinya bergetar.
“Apakah kamu mengenal Laban, anak Nahor?”
“Ya, kami mengenalnya.”
“Dan lihatlah, Rahel anaknya sedang datang dengan kawanan dombanya.”
Yakub menoleh. Dari balik sinar pagi, seorang gadis berjalan lembut menggiring kawanan domba. Langkahnya tenang, wajahnya berseri, mata jernih memantulkan ketulusan. Rahel, putri Laban.
Hati Yakub tersentuh. Cinta pertama lahir seketika. Ia menggulingkan batu besar penutup sumur dengan kekuatan luar biasa. Para gembala tertegun. Yakub menimba air dan memberi minum domba-domba Rahel. Setelah itu ia menangis—bukan karena lemah, tetapi karena terharu. Segala pelarian, ketakutan, dan harapannya kini terasa seperti mulai terjawab.
Rahel berlari pulang membawa kabar itu kepada ayahnya. Sejak hari itu, takdir mereka mulai terjalin—kisah yang akan membentuk sejarah bangsa Israel.
Debu masih menempel di jubah Yakub ketika ia tiba di rumah Laban. Laban menyambut dengan ramah, namun di balik matanya ada hitungan dan rencana. Ia melihat Yakub sebagai tenaga kuat yang bisa menghasilkan banyak keuntungan.
Hari-hari Yakub berubah menjadi minggu, minggu menjadi bulan. Yakub bekerja dengan setia. Setiap kali melihat Rahel lewat, semangatnya bangkit. Laban memperhatikan itu semua. Ia tahu cinta Yakub bisa dimanfaatkan.
Suatu hari Yakub berkata, “Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapatkan Rahel.”
Laban tersenyum licik, namun menutupi niatnya dengan kata-kata manis:
“Lebih baik dia kuberikan kepadamu daripada kepada orang lain.”
Maka tujuh tahun pun berlalu—dan bagi Yakub itu terasa hanya beberapa hari saja karena cintanya kepada Rahel.
Namun di benak Laban, tujuh tahun itu adalah keuntungan besar. Dan ketika waktu pernikahan tiba, ia sudah menyiapkan rencana gelap. Malam pesta tiba, pengantin wanita dibawa ke tenda dalam kerudung tebal. Dan Yakub menerima perempuan itu dalam cinta dan harapan.
Namun itu bukan Rahel. Itu Lea.
Fajar tiba. Cahaya masuk ke tenda. Yakub melihat wajah Lea dan seluruh dunianya berhenti. Ia marah, hancur, dan pergi menemui Laban.
“Apa yang telah kau perbuat padaku? Bukankah aku bekerja untuk Rahel? Mengapa engkau menipu aku?”
Laban menjawab dingin, “Di tempat kami tidak biasa memberikan anak yang lebih muda sebelum yang sulung.”
Kata-kata itu menusuk hati Yakub—dan mungkin untuk pertama kalinya ia merasakan sendiri rasa sakit yang dulu ia timbulkan pada Esau. Tuhan sedang mendidiknya melalui cermin dari dirinya sendiri.
Namun cinta tetap membuat Yakub bertahan. Ia bekerja tujuh tahun lagi demi Rahel. Tahun demi tahun penuh kelelahan, air mata, dan kesetiaan. Hingga akhirnya Rahel menjadi miliknya. Cinta mereka tidak lagi ringan; itu cinta yang ditempa melalui luka dan waktu.
Tetapi rumah Laban adalah tempat persaingan, air mata, dan kecemburuan. Lea melahirkan banyak anak, sementara Rahel tetap mandul. Dua saudari itu bersaing mendapatkan cinta Yakub. Anak-anak lahir dari Lea, dari Rahel, dari budak-budak mereka—dan Tuhan sedang menyiapkan dua belas suku Israel.
Yakub semakin mengenal Tuhan melalui penderitaan. Ia belajar bahwa penyertaan Tuhan tidak selalu berarti hidup mudah. Kadang penyertaan itu hadir dalam air mata, dalam cinta yang tidak selalu berbalas.
Waktu berlalu. Setelah empat belas tahun, Tuhan memanggil Yakub pulang ke Kanaan. Yakub pergi diam-diam bersama keluarganya. Laban mengejar, namun Tuhan campur tangan dalam mimpi dan melarangnya menyakiti Yakub. Mereka berdamai dan membuat perjanjian Mizpa—Tuhan yang mengawasi antara mereka.
Yakub pergi dari Haran sebagai pria yang diubah oleh waktu. Bukan lagi penipu, tetapi seorang ayah, seorang suami, seorang hamba Tuhan yang hatinya ditempa melalui luka.
Begitulah Tuhan bekerja. Ia tidak membuang karena kesalahan, tetapi membentuk melalui konsekuensi. Cinta sejati diuji oleh waktu. Iman sejati ditempa oleh penderitaan. Dan janji Tuhan digenapi pada waktu yang paling tepat.
Mungkin kamu hari ini seperti Yakub: berjalan jauh, menunggu lama, atau terluka oleh hidup. Namun Tuhan tidak pernah menyesali janji-Nya. Jika kamu tetap berjalan bersama-Nya, kamu akan pulang dengan anugerah.
#fyp #foto #teks

Post a Comment