Takut Kehilangan Kamu

Takut Kehilangan Kamu
Judul: Takut Kehilangan Kamu

Malam hari membawa dingin yang menetap sampai ke tulang. Di teras rumah kecil itu, hanya ada dua kursi plastik yang berderit setiap kali angin menyentuhnya. Aku duduk di salah satunya, sementara kamu berdiri tak jauh di depanku, menatap gelap seperti mencari jawaban yang tidak pernah selesai.

“Aku tidak ingin kehilanganmu selamanya,” kataku", nyaris seperti bisikan yang takut pada kenyamanan sendiri.

Kamu menunduk. “Aku tidak pernah ingin kehilanganmu, terlepas dari apa yang kita lalui.” Suaramu bergetar, seperti menahan sesuatu yang ingin pecah.

Aku menarik napas panjang. "Di dalam dirimu, aku menemukan apa yang hilang dariku. Aku tidak ingin kehilanganmu." Kata-kata itu keluar begitu saja, jujur ​​tanpa perisai.

Kamu mendekat, duduk di kursi sebelahku. “Aku sudah kehilangan banyak orang dalam hidup,” ucapmu dalam, “aku tidak ingin kehilanganmu.”

Aku hanya menatap tanganmu yang gemetar. Berkali-kali ingin kugenggam, tapi selalu ragu—takut kamu menjauh, takut sentuhan kecil justru memecahkan semua yang tersisa.

“Aku bohong,” lanjutmu, “jika aku bilang kehilanganmu adalah sesuatu yang bisa kuatasi.”

Angin malam menutup jeda di antara kita. Dua jantung berdetak berbeda ritmenya, tapi dengan rasa yang sama: takut.

“Aku takut kehilanganmu,” ujarku akhirnya. “Aku akan melakukan segalanya agar aku tidak kehilanganmu.”

Kamu tersenyum kecil, senyum yang lebih seperti luka yang menyamar. "Kamu,suka apa yang kita jalani dan aku tidak pernah ingin kehilanganmu."

Kali ini aku yang menunduk. Entah kenapa dada terasa sesak, seperti seluruh dunia menunggu jawaban yang tidak sanggup kuberi.

“Aku sangat takut kehilanganmu,” katamu lagi. “Kamu satu-satunya hal yang masuk akal.”

Aku memejamkan mata. “Aku tidak ingin kehilanganmu… Karena kehilanganmu seperti kehilangan sebagian diriku.”

Kamu menghela napas, lalu menggeser kursimu lebih dekat, tanpa kata, tanganmu akhirnya menyentuhnya. Hangat dan Nyata.

Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada yang berbicara. Tidak perlu. Takut kehilangan sering kali lebih keras daripada suara apa pun—tapi malam itu, akhirnya untuk sekali saja, rasa takut itu menemukan tempat untuk beristirahat.
Di dua tangan yang akhirnya saling menggenggam dan bersama untuk selamanya.

#fyp #foto #teks

Post a Comment

Previous Post Next Post